Ma’had Ar-Rohmah Bogor selenggarakan Diklat Dasar Gerakan Pandu Hidayatullah (GPH) pada 27-28/09/2025.
Mengusung tema “Menjadi Pembina Kader Pemimpin Muda yang Ahlul Quran, Internationally Minded, Smart, Communicative, dan Leadership” kegiatan ini diikuti oleh 33 peserta yang terdiri dari unsur pengasuh dan guru Ma’had Ar-Rohmah Bogor.
Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Mudir, Marzan Safrudin, M.Pd, yang sekaligus menyampaikan sambutan. Dalam sambutannya, Marzan mengucapkan terima kasih kepada tim SAKODA Jatim yang hadir mengisi acara ini. Ia menegaskan bahwa meskipun lokasi kegiatan berada di luar kode area Jatim, circle mereka tetap di bawah naungan Ar-Rohmah Malang Jawa Timur.
“Karena Ma’had Ar-Rohmah Bogor berada di bawah naungan Ar-Rohmah Malang Jatim, maka kita tetap bagian dari SAKODA Jatim”. Ujarnya.
Marzan menambahkan, selama dua hari kedepan, peserta akan mendapatkan berbagai materi yang cukup lengkap untuk menjalankan program Pandu di lingkungan Ma’had. Ia juga mengingatkan pentingnya kolaborasi dan memberikan pesan langsung kepada Pinsakoda untuk menyampaikan semua bahan ajar yang penting, mulai dari materi utama, bahan ajar selama satu tahun, hingga strategi pelaksanaan.
“Bahkan saya berpesan langsung kepada PINSAKODA kak Alim Puspianto untuk menyampaikan semua materi penting. Harapannya, semua materi ini bisa langsung diaplikasikan di Ar-Rohmah Bogor ini”. Tegasnya.

Materi yang disampaikan dalam diklat ini meliputi Idealisme Pandu dan dunia SAKO, juga Rencana Membina, MFR, Tali Temali dan Pionering serta materi Tsaqofiyah.
Alim Puspianto menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada timnya. Ia menegaskan bahwa diklat ini bukan sekadar kegiatan formalitas semata, melainkan proses pembinaan jiwa dan raga.
“Terimakasih atas undangan dan kepercayaannya kepada kami. Diklat ini juga merupakan kegiatan mulia karena dengan kita mengikutinya secara otomatis memasukan kita semua ke dalam golongan manusia agung yang mengemban amanah kenabian yaitu melahirkan generasi 554 pelanjut estafesa kepemimpinan Islam yang shohihul aqidah, mutaqolliqul bil Qur’an, mujiddun fi ‘badah, dain illallah, dan multazimun bil jamaah,” tegasnya.

Lebih jauh, Alim menegaskan bahwa Pandu adalah wadah perkaderan yang sangat penting. Keberhasilan proses perkaderan di sekolah maupun pondok sangat bergantung pada peran Pandu. Oleh karena itu, spirit dan semangat harus terus digelorakan agar amanah perjuangan ini dapat terlaksana dengan baik. Untuk itu ia menyampaikan tiga pesan utama kepada peserta.
“saya berpesan pertama niat yang lurus lillahi ta’ala. Kedua semangat berproses dan berlatih, serta menjadi pembina instruktur yang kreatif. Yang ketiga bersiap dan berkomitmen dalam mengemban amanah sebagai instruktur/pembina”. Ungkapnya.

Alim menegaskan, banyak peserta yang mengikuti diklat namun tidak bersedia terlibat langsung dalam kegiatan, sehingga komitmen dan kesungguhan sangat diperlukan. Diakhir kegiatan, peserta diajak melakukan praktik mengajar dari masing-masing kelompok, lengkap dengan ice breaking yang merupakan bagian dari tugas materi Rencana Mengajar. By: Sang Pejuang
