Berorganisasi: Dari Literasi Menuju Aksi

by admin

Banyak anak muda ingin menjadi pemimpin, tetapi tidak semuanya mau menjalani prosesnya. Padahal kepemimpinan tidak lahir hanya dari membaca buku, mengikuti seminar, atau mendengarkan ceramah. Kepemimpinan tumbuh ketika seseorang belajar menghadapi manusia, menyelesaikan masalah, menerima perbedaan dan berani tanggung jawab. Salah satu wadah terbaik untuk belajar kepemimpinan adalah organisasi. Organisasi membuat kepemimpinan tidak hanya dipahami sebagai teori, tetapi dilatih melalui pengalaman nyata.

Karena itu, bagi santri dan generasi muda, organisasi bukan sekadar tempat berkumpul membuat kepanitiaan, membagi jabatan, lalu menjalankan program kerja. Lebih dari itu, organisasi adalah tempat belajar menjadi manusia yang memiliki ilmu dan wawasan yang luas, sebagai tempat mempertemukan berbagai ide dan gagasan dan selanjutnya sebagai media untuk menghadirkan perubahan. Organisasi adalah sekolah kehidupan, yang diidalamnya ada tiga proses penting yang sangat menentukan yaitu literasi, diskusi, dan aksi.

Ketiganya bukan aktivitas yang berdiri sendiri. Masing masing mempunyai hubungan yang sangat kuat dan saling terkait. Literasi menjadi modal untuk berdiskusi, diskusi menjadi jalan untuk merumuskan aksi, dan aksi menjadi pembuktian dari literasi serta diskusi yang telah dilakukan.

Pertama, Berorganisasi adalah Berliterasi

Literasi adalah modal dasar yang tidak boleh absen dalam kehidupan organisasi. Tanpa literasi, seseorang mudah berbicara tanpa dasar, berpendapat tanpa data, mengambil keputusan tanpa pemahaman, bahkan terjebak dalam perdebatan yang miskin substansi. Karena itu, berorganisasi sejatinya menuntut setiap anggotanya untuk terus membaca, belajar, memahami realitas, dan memperluas wawasan. Literasi bukan hanya kemampuan membaca teks, tetapi juga kemampuan membaca keadaan, memahami persoalan, menimbang informasi, dan membangun argumentasi. Inilah bekal utama dalam berdiskusi. Forum organisasi akan berkualitas apabila setiap orang datang membawa pengetahuan, referensi, data, dan gagasan, bukan sekadar asumsi atau keberanian berbicara. Semakin kuat literasi seseorang, semakin matang pula cara berpikir, berbicara, dan menyikapi perbedaan.

Karena itu, kualitas organisasi sangat ditentukan oleh kualitas literasi para anggotanya. Organisasi yang memiliki budaya membaca, menulis, berdiskusi, dan mengkaji persoalan akan lebih matang dalam mengambil keputusan dan lebih kuat menghadapi perubahan. Literasi membuat kader tidak mudah terbawa opini, mampu melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, serta berani menyampaikan gagasan dengan dasar yang jelas. Dari literasi lahir diskusi yang sehat, dari diskusi lahir gagasan, dari gagasan lahir keputusan, dan dari keputusan yang berilmu lahir gerakan yang membawa perubahan. Maka, berorganisasi adalah berliterasi, sebab literasi merupakan modal dasar untuk berpikir, berdiskusi, memimpin, dan menggerakkan organisasi menuju tujuan yang lebih besar.

Kedua, Berorganisasi adalah Berdiskusi

Setelah membaca, kita harus berani mempertemukan ide, gagasan dan pemikiran kita. Literasi memberi kita bahan untuk berpikir, sedangkan diskusi menjadi ruang untuk menguji, mempertemukan, dan mematangkan gagasan. Pengetahuan yang hanya disimpan dalam kepala belum cukup untuk menggerakkan organisasi. . Ia perlu dipertemukan dengan pandangan orang lain, diuji dengan realitas, dikritisi, dan disempurnakan melalui percakapan yang sehat. Karena itu, diskusi bukan sekadar kegiatan berbicara dalam forum, tetapi proses membangun pemahaman bersama. Dalam diskusi, setiap anggota belajar menyampaikan pendapat dengan alasan yang kuat, mendengarkan dengan terbuka, menghargai perbedaan, serta berani mengoreksi dan dikoreksi. Di sinilah literasi menemukan fungsinya: apa yang dibaca dan dipelajari berubah menjadi argumentasi, pertimbangan, dan alternatif solusi bagi persoalan organisasi. Di sinilah organisasi mendidik seseorang untuk memahami bahwa tidak semua pikiran kita pasti benar dan tidak semua pendapat orang lain pasti salah.

Dalam rapat kepanitiaan misalnya, ketua mungkin ingin membuat kegiatan besar. Pasti banyak peserta rapat yang menyampaikan tawaran konsep acara terbaiknya. Belum lagi ditambah bendahara mengingatkan bahwa anggaran terbatas. Kalau setiap orang mempertahankan ego, rapat berubah menjadi arena pertengkaran. Tetapi kalau semuanya memiliki adab, perbedaan justru melahirkan keputusan yang lebih baik.

Organisasi yang sehat adalah organisasi yang memiliki budaya diskusi yang hidup. Keputusan yang baik tidak lahir dari dominasi satu suara, tetapi dari proses pertukaran pikiran yang jernih, terbuka, dan berorientasi pada tujuan bersama. Diskusi melatih anggota untuk tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu mendengar, menimbang, menyimpulkan, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Dari diskusi lahir kesepahaman, dari kesepahaman lahir keputusan, dan dari keputusan lahir gerakan bersama. Maka, berorganisasi adalah berdiskusi, sebab melalui diskusilah gagasan dipertajam, perbedaan dipertemukan, masalah dicarikan jalan keluar, dan organisasi menemukan arah langkahnya. Jika literasi adalah modal berpikir, maka diskusi adalah ruang tempat pikiran itu tumbuh menjadi keputusan dan gerakan.

Ketiga, Berorganisasi adalah Beraksi

Setelah berliterasi dan berdiskusi, tahap berikutnya dalam berorganisasi adalah beraksi. Literasi memberi kita pengetahuan, diskusi membantu kita menimbang dan mematangkan gagasan, tetapi semua itu belum cukup jika tidak diwujudkan dalam tindakan nyata. Organisasi bukan tempat menumpuk wacana, melainkan ruang untuk mengubah gagasan dan Keputusan  menjadi karya nyata. Karena itu, aksi adalah ukuran penting dari kesungguhan sebuah organisasi. Apa yang telah dibaca harus melahirkan pemahaman, apa yang telah didiskusikan harus melahirkan keputusan, dan apa yang telah diputuskan harus berujung pada pelaksanaan. Di sinilah kualitas organisasi diuji: apakah ia hanya kuat dalam konsep saja, atau benar-benar mampu menghadirkan manfaat melalui kerja yang terarah dan berdampak.

Dengan demikian, aksi tidak menjadi kegiatan seremonial semata, tetapi benar-benar menjadi gerakan yang menghasilkan perubahan nyata. Maka, berorganisasi adalah beraksi, sebab organisasi tidak dinilai dari seberapa banyak yang dibicarakan, tetapi dari seberapa banyak karya nyata yang dihadirkan dan seberapa besar manfaat yang dihasilkan. By: Sang Pejuang

Related Articles

Leave a Comment