Strategi Melawan Kemalasan: Membaca QS. Al-Anfal 45–47 sebagai Etos Bekerja dan Belajar

by admin

Oleh : Damanhuri, M.PdI

QS. Al-Anfal ayat 45–47 sering dipahami sebagai ayat tentang prinsip kaum beriman ketika menghadapi peperangan. Secara tekstual, ayat ini memang berbicara tentang situasi perang. Namun, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak berhenti pada medan perang fisik. Ayat ini juga dapat dibaca sebagai pedoman perjuangan hidup, terutama dalam dua aktivitas penting manusia modern: bekerja dan belajar.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sesungguhnya selalu berada dalam medan perjuangan. Seorang pekerja berjuang melawan rasa malas, ketidakjujuran, tekanan pekerjaan, konflik tim, dan godaan mencari hasil dengan cara yang tidak benar. Seorang pelajar juga berjuang melawan kebodohan, kemalasan, rasa bosan, putus asa, dan kesombongan intelektual. Karena itu, makna “berperang” dalam konteks ini dapat dipahami sebagai metafora perjuangan moral, spiritual, dan intelektual.

Ayat pertama yang menjadi dasar pembahasan ini adalah perintah Allah: فَاثْبُتُوْا, “maka teguhlah kamu.” Dalam konteks perang, keteguhan berarti tidak gentar menghadapi musuh. Dalam konteks bekerja, keteguhan berarti komitmen menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh. Pekerja Muslim tidak mudah menyerah ketika menghadapi tugas berat, tekanan target, atau kritik. Ia tetap bertahan dalam kebaikan karena memahami bahwa pekerjaan adalah bagian dari ibadah dan amanah.

Dalam konteks belajar, فَاثْبُتُوْا berarti teguh menghadapi kesulitan ilmu. Tidak semua pelajaran mudah dipahami. Ada materi yang harus dibaca berulang, latihan yang harus dikerjakan berkali-kali, dan ujian yang menuntut kesabaran. Di sinilah pentingnya keteguhan. Zimmerman menjelaskan bahwa keberhasilan belajar sangat dipengaruhi oleh kemampuan peserta didik mengatur dirinya sendiri, termasuk menetapkan tujuan, menjaga motivasi, dan mengevaluasi proses belajar (Zimmerman, 2002). Dengan demikian, keteguhan dalam belajar bukan hanya semangat sesaat, tetapi kemampuan bertahan dalam proses panjang.

Prinsip kedua adalah وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا, yaitu memperbanyak mengingat Allah. Dalam tafsirnya, Quraish Shihab menjelaskan bahwa zikir bukan sekadar ucapan lisan, tetapi kesadaran hati yang menghadirkan Allah dalam setiap keadaan (Shihab, 2002). Dalam dunia kerja, zikir berarti menghadirkan Allah dalam keputusan profesional. Orang yang mengingat Allah tidak akan mudah menipu, memanipulasi data, mengambil hak orang lain, atau menyalahgunakan jabatan. Ia sadar bahwa pekerjaannya bukan hanya diawasi manusia, tetapi juga diawasi Allah.

Dalam proses belajar, mengingat Allah berarti menjaga niat. Belajar tidak hanya bertujuan memperoleh nilai tinggi, ijazah, jabatan, atau pujian. Belajar adalah jalan mencari ilmu yang bermanfaat. Seorang pelajar yang mengingat Allah akan berdoa sebelum belajar, menghormati guru, tidak menyontek, dan tidak sombong ketika merasa pandai. Ilmu yang benar seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, bukan semakin tinggi hati.

Prinsip ketiga adalah وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ, yaitu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam konteks bekerja, ketaatan berarti menjalankan pekerjaan sesuai nilai halal, jujur, amanah, dan bertanggung jawab. Islam tidak hanya menilai hasil, tetapi juga cara memperoleh hasil. Pekerjaan yang menghasilkan keuntungan besar tetapi dilakukan dengan cara curang tidak dapat disebut berkah. Hamka menegaskan bahwa ketaatan kepada Allah harus tampak dalam perilaku nyata, termasuk dalam kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian memegang kebenaran (Hamka, 1982).

Dalam konteks belajar, ketaatan kepada Allah dan Rasul berarti menjaga adab dalam menuntut ilmu. Pelajar tidak boleh menipu dalam ujian, memalsukan tugas, meremehkan guru, atau menggunakan ilmu untuk keburukan. Pendidikan Islam tidak hanya mengejar kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan akhlak. Ilmu tanpa adab dapat melahirkan kesombongan, sedangkan ilmu yang disertai adab akan melahirkan kebijaksanaan.

Prinsip keempat adalah لَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ, yaitu jangan berselisih, sebab perselisihan akan menyebabkan kegagalan dan hilangnya kekuatan. Dalam dunia kerja, ayat ini sangat relevan. Banyak lembaga gagal bukan karena kekurangan orang pintar, tetapi karena orang-orang di dalamnya sibuk bertengkar, saling menjatuhkan, dan mempertahankan ego masing-masing. Robbins dan Judge menjelaskan bahwa keberhasilan organisasi sangat dipengaruhi oleh kerja sama, komunikasi, kepemimpinan, dan kemampuan mengelola konflik secara sehat (Robbins & Judge, 2019). Artinya, perbedaan pendapat boleh terjadi, tetapi tidak boleh berubah menjadi perpecahan.

Dalam konteks belajar, larangan bertengkar berarti menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat. Pelajar tidak boleh saling mengejek, merendahkan teman yang belum paham, atau iri terhadap prestasi orang lain. Teman belajar bukan musuh, melainkan mitra untuk tumbuh bersama. Suasana kelas yang penuh dukungan akan membuat ilmu lebih mudah diterima dan karakter lebih mudah dibentuk.

Prinsip kelima adalah وَاصْبِرُوْا, bersabarlah. Sabar dalam bekerja berarti kuat menjalani proses, tidak tergesa-gesa mencari hasil, dan tidak mudah marah ketika menghadapi kesulitan. Seorang pekerja yang sabar tetap menjaga kualitas kerja meskipun hasil belum segera terlihat. Ia tidak menyerah hanya karena mengalami kegagalan sementara.

Dalam belajar, sabar berarti rela mengulang, bertanya, membaca kembali, dan berlatih terus-menerus. Bandura menjelaskan bahwa keyakinan seseorang terhadap kemampuannya akan memengaruhi ketekunan dan keberaniannya menghadapi tantangan (Bandura, 1997). Dalam perspektif Islam, keyakinan ini diperkuat oleh iman bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar. Maka, pelajar tidak boleh mudah berkata “saya tidak bisa”, tetapi harus mengatakan “saya akan terus berusaha dengan pertolongan Allah.”

QS. Al-Anfal ayat 47 juga memberi peringatan agar tidak seperti orang-orang yang keluar dengan sombong dan ingin dilihat manusia. Dalam konteks kerja, ini berarti tidak menjadikan jabatan, prestasi, atau kekayaan sebagai alat untuk pamer. Dalam konteks belajar, ini berarti tidak mencari ilmu hanya agar dipuji pintar. Kesombongan dapat merusak nilai perjuangan. Sayyid Qutb menekankan bahwa perjuangan orang beriman harus bersih dari motivasi riya dan kesombongan, sebab keduanya menjauhkan manusia dari keikhlasan (Qutb, 2003).

Dengan demikian, QS. Al-Anfal ayat 45–47 mengajarkan bahwa bekerja dan belajar adalah medan perjuangan. Bekerja adalah perang melawan kemalasan, kecurangan, egoisme, dan ketidakikhlasan. Belajar adalah perang melawan kebodohan, putus asa, sikap malas, dan kesombongan ilmu. Keduanya membutuhkan keteguhan hati, zikir, ketaatan, persatuan, kesabaran, dan keikhlasan.

Jika nilai-nilai ini diterapkan, pekerjaan tidak hanya menghasilkan produktivitas, tetapi juga keberkahan. Belajar tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga membentuk akhlak. Inilah pesan penting QS. Al-Anfal ayat 45–47: kemenangan sejati bukan hanya ketika seseorang mengalahkan musuh di luar dirinya, tetapi ketika ia mampu mengalahkan kelemahan di dalam dirinya.

Referensi

Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. W. H. Freeman.

Hamka. (1982). Tafsir Al-Azhar. Pustaka Panjimas.

Qutb, S. (2003). Fi Zhilalil Qur’an. Gema Insani.

Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2019). Organizational behavior (18th ed.). Pearson.

Shihab, M. Q. (2002). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an. Lentera Hati.

  1. Zimmerman, B. J. (2002). Becoming a self-regulated learner: An overview. Theory Into Practice, 41(2), 64–70.

Related Articles

Leave a Comment