Leadership Communication

by admin

(2 Dimensi Komunikasi dalam Perspektif Kepemimpinan)

Kepemimpinan menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan sukses atau tidaknya suatu lembaga. Sehingga seorang pemimpin harus benar-benar mampu menjalankan tugas dan fungsinya secara profesional. Bahkan ada sebuah ungkapan bahwa leadership is an art. Karena dalam memimpin, memang dibutuhkan seni tingkat tinggi. Bagaimana seseorang mampu mengorganisir, mengarahkan dan menyatukan kekuatan team untuk sebuah tujuan yang sudah ditetapkan bersama.

Adapun salah satu kompetensi atau keahlian yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin yaitu diaspek komunikasi. Khususnya adalah tentang cara dan pendekatan komunikasi kepemimpinan yang digunakan untuk menggerakkan orang orang dalam organisasi tersebut.

Di dalam kajian ilmu komunikasi kita menganal adanya dua dimensi komunikasi yaitu dimensi isi dan dimensi hubungan. Dua hal inilah yang akan kita kaji secara lebih dalam tentunya dalam perspektif dunia kepemimpinan.

  1. Dimensi isi

Dimensi isi disandi secara verbal dan menunjukkan muatan isi komunikasi sesungguhnya atau sebagaimana yang dikatakan oleh komunikator. Lebih jauh jika dikaitkan dengan  komunikasi massa, dimensi isi merujuk pada isi pesan itu sendiri. Artinya adalah yang ditulis atau diucapkan adalah sesuai dengan apa yang dimaksudkan. Jika pernyataannya adalah “A” maka yang dimaksud juga “A” bahkan tafsirannya juga “A”.

Dari penjelasan tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwa dimensi isi dalam komunikasi sangat  jelas dan gamblang. Karena apa yang ditulis atau diucapkan adalah sesuatu yang sudah dipahami dan umum.

Dalam konteks kepemimpinan maka kita bisa mendapati bahwa seorang pemimpin yang menggunakan pendekatan dimensi isi dalam membangun komunikasi kepemimpinannya maka atmosfer kepemimpinannya akan terasa kaku. Ia hanya melaksanakan dan menjalankan apa yang tertera dalam peraturan organisasi saja. Kondisi seperti ini mengindikasikan bahwa pemimpin tersebut hanya memanfaatkan kedudukan kepemimpinannya. Padahal sejatinya “Leadership is an action not position” kepemimpinan tidak hanya sekedar tentang posisi tapi lebih kepada aksi.

Seorang pemimpin yang membangun jalur komunikasi kepemimpinannya dengan dimensi isi pasti akan cenderung Top Down dan bersifat instruktif. Jika kondisi tersebut benar-benar terjadi di sebuah lembaga atau organisasi maka lembaga atau organisasi yang bersangkutan sesungguhnya tidak punya pemimpin yang ada hanya pimpinan. Karena ia hanya menjalankan aturan demi aturan organisasi saja. Pendekatan kepemimpinanya lebih kepada kata perintah dan larangan. Kalaupun ada yang lain itu adalah luapan emosi dari seorang yang merasa mempunyai kedudukan tinggi yaitu seorang pimpinan.

Kondisi tersebut akan menjadikan para bawahannya kelihatan taat padahal di belakang mereka mengumpat. Kelihatanya mereka mengikuti padahal di belakang mereka mencaci dan membenci. Ketaatan, ketundukan dan kerelaan yang dipertontonkan oleh mereka tidak lebih hanya sekedar kamuflase semata. Semuanya semu laksana fatamorgana, kelihatanya nyata tapi hakekatnya adalah hampa.

Kepemimpinan yang dibangun dengan pendekatan “dimensi isi” cenderung instruktif dan mengarah kepada “keterpaksaan”. Karena jalinan hubungan orang-orang didalam organisasi tersebut terkesan sebatas hubungan transaksional semata. Jika para pemimpin memberikan atau melakukan sesuatu, maka anak buahnya juga akan memberikan sesuatu kepada para pemimpinnya. Layaknya ikan lumba-lumba di arena atraksi, ia akan meloncat jika pelatihnya memberikan bonus makanan. Jika pelatihnya tidak memberikan makanan, lumba-lumbapun akan diam tak bergerak.

Lebih parahnya, jangankan anggotanya mau berkomunikasi dan memberikan kontribusi, jika terpaksa berpapasanpun pasti mereka akan cari jalan lain untuk menghindari pemimpinnya. Bertemu dengan pimpinan laksana berhadapan dengan binatang buas yang siap menerkamnya. Atmosfer kepemimpinan organisasi yang seperti itu pasti sangat tidak kondusif. Suasana kerja menjadi tegang dan penuh kewaspadaan tingkat tinggi. Sehingga potensi lembaga dan seluruh orang yang ada di dalamnya tidak bisa termanfaatkan secara maksimal.

  1. Dimensi hubungan

Kalau dimensi isi disandi dengan verbal maka dimensi hubungan lebih disandi dengan non verbal. Artinya apa yang diucapkan atau ditulis tidak langsung bisa ditafsirkan apa adanya. Hal ini tidak lain dikarenakan dalam dimensi hubungan, peranan hubungan lebih dominan dari sekedar isi semata. contohnya kalimat “Aku benci kamu” atau “Ih kamu jahat” yang diucapkan oleh seorang istri kepada suaminya justru kadang bermakna sebaliknya. Sebagimana yang disampaikan oleh Prof Deddy Mulyana bahwa tidak semua orang menyadari bahwa pesan yang sama bisa ditafsirkan berbeda bila disampaikan dengan cara berbeda. Hal ini menunjukan bahwa kedekatan dan kehangatan sebuah hubungan akan sangat mempengaruhi komunikasi seseorang. Bahkan kadang sampai pada level, mereka berkomunikasi hanya dengan kode-kode tertentu saja. Dimana hanya mereka saja yang paham dan tahu makna serta tafsir dari kode komunikasi yang mereka lakukan.

Jika dikaitkan dengan dunia kepemimpinan maka dimensi hubungan ini akan sangat menarik sekali. Karena di dalam prakteknya kepemimpinan tidak selalu berbicara tentang arahan dan instruksi semata. Ada masanya pendekatan yang sifatnya fulgar itu kita minimalisir sedemikian rupa. Sehingga seluruh anggota bisa merasa nyaman dan enjoy dalam menjalankan tugasnya.

Dimensi hubungan terlihat ketika makna komunikasi tidak hanya ditentukan oleh kata-kata yang diucapkan, tetapi juga oleh kedekatan, ekspresi, intonasi, gestur, kebiasaan interaksi, dan kualitas hubungan antara pemimpin dengan anggota organisasi. Karena itu, kalimat yang sama dapat memiliki makna yang sangat berbeda tergantung siapa yang menyampaikan dan bagaimana jalinan hubungan diantara mereka.

Bahkan pada tingkat hubungan yang sangat kuat, komunikasi dapat berlangsung hanya melalui gestur. Dalam sebuah rapat, seorang pemimpin mungkin cukup menganggukkan kepala kepada salah seorang anggota tim. Tanpa ada instruksi verbal, anggota tersebut langsung memahami bahwa ia diminta memulai presentasi. Begitu juga berdehemnya seorang ustadz di depan asrama pada pukul 03.00 WIB, seketika itu juga seluruh santri secara serempak bangun dari tidurnya dan langsung mengambil air wudhu untuk melaksanakan Qiyamul lail. Tidak ada perintah yang diucapkan tetapi pesan tetap tersampaikan dan “instruksi” dilaksanakan.

Karena itu, dalam kepemimpinan, kemampuan membangun hubungan menjadi sangat penting. Semakin kuat kepercayaan, kedekatan, dan pemahaman antara pemimpin dengan anggotanya maka semakin banyak pesan yang dapat disampaikan tanpa harus selalu menggunakan instruksi yang vulgar dan formal. Pemimpin tidak harus terus-menerus berkata, “Kerjakan ini,” “Selesaikan itu,” atau “Anda harus begini.” Pada kondisi tertentu, senyuman, ekspresi, pilihan kata yang halus, bahkan diam sekalipun dapat menjadi pesan kepemimpinan yang sangat kuat. by: Sang Pejuang

Related Articles

Leave a Comment