SIAPAKAH KADER HIDAYATULLAH ITU…?

by admin

Sebuah organisasi tidak akan pernah lebih kuat tanpa adanya kader hebat yang berada di dalamnya. Gedung boleh berdiri megah, program dapat tersusun rapi, dan jaringan bisa berkembang luas. Namun semua itu tidak akan memiliki daya tahan yang panjang apabila organisasi tersebut gagal memproses dan melahirkan kader.

Kader sebuah organisasi bukan sekadar orang yang tercatat sebagai anggota. mereka juga bukan hanya orang yang hadir dalam kegiatan dan mengenakan atribut organisasi semata. Kader adalah manusia yang telah mengalami proses pembentukan nilai, memahami arah perjuangan, memiliki kesediaan berkorban, serta siap melanjutkan estafet perjuangan sebuah organisasi. Karena itu, masa depan sebuah organisasi pada hakikatnya sangat ditentukan oleh kaderisasinya.

Hidayatullah dan Kaderisasi

Sejak awal perjalanan perjuangannya, Hidayatullah menempatkan kader sebagai bagian terpenting dalam proses aktivitas pergerakannya. Terbukti bahwa para kader itulah yang kemudian bergerak merintis dan membangun Hidayatullah melalui kegiatan dakwah, pendidikan, sosial, ekonomi dan berbagai amal usaha lainnya di tengah masyarakat.

Oleh karena itu kekuatan Hidayatullah sesungguhnya bukan hanya terletak pada banyaknya lembaga atau luasnya jaringan organisasi. Kekuatan paling mendasar adalah ada pada kader kader terbaiknya. Dalam tradisi Hidayatullah, proses pembentukan kader tidak dilepaskan dari Sistematika Wahyu (SW). Sistematika Wahyu merupakan manhaj yang dikembangkan oleh pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said, dengan mengambil pelajaran dari tahapan awal turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW. Kerangka ini tidak hanya dimaknai sebagai urutan surah, tetapi sebagai proses pembentukan manusia:

Salah satu cara sederhana untuk menggambarkan siapa kader Hidayatullah itu adalah melalui kata KADER itu sendiri yaitu:

K — Kokoh Tauhidnya

Karakter pertama seorang kader adalah kokoh tauhidnya. Perjalanan Sistematika Wahyu dimulai dari Surah Al-‘Alaq, khususnya ayat 1–5. Wahyu pertama tersebut dimulai dengan sebuah perintah:

“Iqra’ bismi rabbikalladzī khalaq.”

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.

Pesan ini meletakkan fondasi paling mendasar dalam kehidupan seorang Muslim: seluruh aktivitas harus dimulai dan diarahkan kepada Allah. Karena itu, kader Hidayatullah harus memiliki cara pandang kehidupan yang berpusat dan berorientasi hanya kepada Allah SWT. Tauhid yang kokoh bukan hanya diucapkan melalui lisan. Tauhid harus melahirkan keberanian, optimisme, kemandirian jiwa, dan kemerdekaan dari ketergantungan berlebihan kepada selain Allah SWT.

A — Agung Akhlaknya

Tahapan berikutnya dalam Sistematika Wahyu merujuk kepada Surah Al-Qalam. Allah SWT menegaskan tentang Rasulullah ﷺ:

“Wa innaka la‘alā khuluqin ‘azhīm.”

“Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

Kader tidak cukup hanya memiliki semangat perjuangan. Ia harus memiliki adab, integritas, kejujuran, amanah, kesantunan, kesabaran, dan kemuliaan karakter. Sebab perjuangan yang tidak dibangun di atas akhlak justru dapat kehilangan ruhnya. Kader Hidayatullah harus dikenal bukan hanya karena pandai berbicara tentang Islam, tetapi karena masyarakat dapat merasakan Islam melalui perilakunya.

Ketika diberi amanah, ia menjaga amanah. Ketika berbicara, ia menjaga kejujuran. Ketika berbeda pendapat, ia menjaga adab. Ketika memiliki kekuasaan, ia tidak menjadi sombong. Ketika menghadapi kesulitan, ia tidak mudah kehilangan kesabaran. Akhlak merupakan wajah dakwah. Karena itu, semakin tinggi posisi seorang kader dalam struktur organisasi, semestinya semakin tinggi pula kualitas akhlaknya.

D — Disiplin Ibadahnya

Kekuatan kader tidak mungkin hanya dibangun dari aktivitas lahiriah. Ada sumber energi yang jauh lebih dalam, yaitu kekuatan ruhiyah. Surah Al-Muzzammil menghadirkan pesan tentang pentingnya qiyamul lail, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan membangun hubungan yang kuat dengan Allah SWT. Inilah karakter ketiga seorang kader yaitu Disiplin ibadahnya. Kader adalah manusia yang memiliki kehidupan spiritual yang terjaga.

Padatnya kesibukan organisasi tanpa kedekatan kepada Allah SWT dapat menjadikan seseorang kering secara spiritual. Tanpa kedisiplinan ibadah yang melahirkan ruhiyah yang kuat semua aktivitas yang dilakukan akan mudah melahirkan kejenuhan. Karena itulah kader harus memiliki sumber energi yang tidak pernah habis yaitu kedekatan kepada Allah SWT melalui disiplin dalam beribadah.

E — Ekspansif Dakwahnya

Kader Hidayatullah tidak boleh berhenti pada kesholehan pribadi. Jika tauhid telah kokoh.

Akhlak telah dibangun. Ruhiyah telah diperkuat. Maka tahap berikutnya adalah bergerak. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Muddatstsir:

“Yā ayyuhal muddatstsir. Qum fa-andzir.”

“Wahai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan.”

Inilah karakter keempat kader yaitu Ekspansif dakwahnya. Kader adalah orang yang selalu memiliki kegelisahan terhadap kondisi umat. Ia tidak puas menjadi baik sendirian. Ia ingin nilai-nilai Islam hadir dalam keluarga, masyarakat, pendidikan, ekonomi, sosial, media, dan berbagai bidang kehidupan. Karena itu, karakteristik seorang kader adalah bergerak, membuka ruang dakwah, membangun jaringan, mengembangkan lembaga, dan menghadirkan kebermanfaatan kepada umat.

Di mana ada peluang dakwah, kader hadir. Di mana ada masyarakat yang membutuhkan pembinaan, kader bergerak. Di mana ada ruang yang dapat menjadi jalan kebaikan, kader berusaha memasukinya. Inilah makna ekspansif. Bukan ekspansi untuk memperbesar nama pribadi, tetapi ekspansif memperluas manfaat dan jangkauan dakwah Islam.

R — Rapat Barisan Jama’ahnya

Perjuangan besar tidak dapat dilakukan sendirian. Karena itu, tahapan Sistematika Wahyu berujung pada kesadaran berjama’ah yang dapat ditarik dari spirit Surah Al-Fatihah. Menariknya, ketika memohon petunjuk kepada Allah SWT, Al-Fatihah menggunakan bentuk jamak:

“Ihdinash shirāthal mustaqīm.”

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”

Bukan hanya tunjukilah aku, tetapi tunjukilah kami. Di sinilah kader belajar bahwa perjuangan Islam adalah perjuangan berjama’ah. Maka karakter terakhir adalah Rapat barisan jama’ahnya. Kader Hidayatullah harus memiliki komitmen kuat terhadap jama’ah, kepemimpinan, dan keputusan organisasi. Ia memahami bahwa dirinya adalah bagian dari barisan besar perjuangan dakwah Islam.

Sebagai perenungan bahwa “Sudah berapa lama kita menjadi bagian dari Hidayatullah?” dan “Seberapa kuat nilai-nilai Hidayatullah telah hidup dalam diri kita?” disitulah jawaban dari pertanyaan: Siapakah Kader Hidayatullah itu ? Kader Hidayatullah adalah mereka yang menjadikan wahyu bukan sekadar sesuatu yang dibaca, tetapi nilai yang hidup dalam dirinya dan diperjuangkan sepanjang kehidupannya.

Oleh: Alim Puspianto, M.Kom.I – Kepala Asrama STAI Luqman Al Hakim Surabaya

Related Articles

Leave a Comment